Saturday, December 21, 2013

Biologi Karang Keras

Biologi Karang Keras-Karang termasuk ke dalam Kelas Anthozoa, merupakan kelas organisme terbesar dari phylum Cnidaria. Karang keras (Scleractinia) merupakan ordo terbesar dari kelas Anthozoa, dan karang keras ini merupakan kelompok utama yang membentuk kerangka dan membangun terumbu karang. Adapun klasifikasi Scleractinia berdasarkan Boaden and Seed (1985), sebagai berikut : 


Phylum : Cnidaria 
      Klass : Anthozoa 
            Sub-klass : Hexacorallia 
                      Ordo : Scleractinia 

Sebagian besar Scleractinia adalah koloni-koloni organisme yang tersusun dari ratusan sampai ratusan ribu individu atau jaringan hidup dari binatang karang, dengan bentuk yang relatif sederhana dan menyerupai anemon. Tubuh seperti anemon itulah yang disebut sebagai polip dan umumnya berbentuk seperti tabung silinder dengan ukuran diameter yang bervariasi ada yang kurang dari satu mm hingga beberapa cm (Veron, 1986 dan Suharsono, 1996). Mulut polip pada bagian atas silinder yang dikelilingi oleh banyak tentakel dapat dijulurkan dan ditarik masuk. 

Veron (1986) dan Suharsono (1996) mengemukakan bahwa karang tersusun dari jaringan yang lunak dan bagian yang keras yang berbentuk kerangka kapur. Bagian lunak hewan karang terdiri dari tiga bagian yaitu ektoderm, mesoglea dan gastroderm. Ektoderm merupakan jaringan terluar yang banyak mengandung silia, kantung mukus dan sejumlah nematosit. Mesoglea adalah jaringan homogen menyerupai jeli, terletak antara ektoderm dan gastroderm. Gastroderm merupakan jaringan paling dalam, sebagian besar terisi oleh zooxanthellae yang merupakan algae uniseluler yang hidup bersimbiosis dengan hewan karang. 

Bagian yang keras berupa kerangka kapur terdiri dari lempeng dasar yang tipis, dan disebut sebagai basal plate. Dari lempeng dasar muncul lempeng-lempeng yang berdiri tegak secara radikal dan disebut septa. Masing-masing septa dihubungkan oleh lempengan yang melingkar disebut theca atau dinding. Penyusun kerangka ini terdiri dari serat kristal atau butir-butir organik CaCO3 yang mempunyai diameter 2 mikron. Perbedaan pengendapan CaCO3 dan adanya faktor genetik memberikan bentuk-bentuk tertentu yang menjadi karakter tiap jenis karang. 



Pada dasarnya polip karang adalah hewan karnivor. Mereka mempunyai tentakel-tentakel yang dipenuhi kapsul-kapsul berduri (nematokis) yang digunakan untuk menyengat dan menangkap mangsanya. Selanjutnya zooplankton yang tertangkap oleh tentakel kemudian dipindahkan ke bagian mulut, yang terletak pada bagian atas dan sekaligus berfungsi sebagai anus. Makanan yang masuk akan dicerna oleh filamen mesenteri dan sisa makanan dikeluarkan melalui mulut. Selain mengambil makanan dari luar, binatang karang juga mendapat suplai makanan dari alga yang hidup bersimbiosis dengannya yang dikenal dengan zooxanthellae. Zooxanthella merupakan algae simbiotik yang terdapat di dalam sel gastrodermal. Karang menyediakan algae kondisi lingkungan yang terlindungi dan komponen yang dibutuhkan untuk fotosintesis; termasuk karbondioksida yang dihasilkan dari respirasi karang dan anorganik nutrien seperti nitrat dan fosfat yang berasal dari buangan metabolisme karang. Sebaliknya zooxanthella menghasilkan oksigen dan membantu karang menghilangkan sisa metabolisme; dan yang paling penting zooxanthella memberikan karang produk bahan organik hasil fotosintesis. Komponen komponen ini meliputi glukosa, gliserol dan asam amino, yang digunakan karang sebagai bahan dalam pembentukan protein, lemak dan karbohidrat, serta pembentukan kalsium karbonat (CaCO3). Simbiosis mutualisme yang terjadi antara algae fotosintesis dan Cnidaria merupakan kunci dari produktifitas biologi yang luar biasa dan kemampuan menghasilkan kerangka kapur dari karang pembentuk terumbu. 

Binatang karang berkembang biak secara seksual dan aseksual. Veron (1995) menyatakan reproduksi seksual karang bersifat vivipar dan hermaprodit, namun ada pula yang kosmopolit reproduksi. Reproduksi aseksual dilakukan dengan pembelahan satu individu polip dari polip induk, koloni polip baru terlepas dari polip induk berkembang dan memulai dengan koloni yang baru. Morton (1990) mengatakan, bahwa planula yang dilepaskan akan melayang-layang di perairan terbuka selama beberapa hari sebelum menemukan substrat yang cocok untuk tumbuh. Planula akan mengalami metamorfosa, membentuk kerangka dan sekat-sekat polip yang baru. Larva karang mempunyai kemampuan untuk menunda metamorfosis jika tidak terdapat substrat yang cocok untuk tumbuh. Dikatakan pula oleh Richmond (1987) bahwa karang yang spawning mampu menunda metamorfosis lebih lama dibandingkan dengan karang yang brooding.

Demikian tulisan tentang Biologi Karang Keras, semoga bermanfaat untuk kita semua. Dapatkan tulisan menarik lainnya SEPUTAR DUNIA LAUT hanya di http://seputar-dunialaut.blogspot.com/



share this article to: Facebook Twitter Google+ Linkedin Technorati Digg
Posted by Unknown, Published at 5:08 AM and have 2 komentar

2 komentar: